Tarian Penyambutan
12 Nov 2010 1 Komentar
in Warna-Warni
Era globalisasi telah menimbulkan beberapa permasalahan berkaitan dengan mulai lunturnya rasa kebanggaan terhadap adat dan budaya daerah. Misalnya saja, banyak pemuda yang lebih menyukai tarian modern seperti balet dan tari kejang, drumband dalam penyambutan tamu, serta makanan ala barat seperti blackpepper dan shirloin stick.
Tetapi ada beberapa cara yang dilakukan oleh beberapa Pemerintah Daerah untuk mempertahankan adat tradisi di wilayahnya. Yang menarik bagi saya adalah adanya tarian penyambutan.
Tarian ini berfungsi untuk menyambut para tamu, baik pejabat pemerintah setempat bahkan tamu dari manca negara. Beberapa daerah yang menggunakan tarian penyambutan tersebut adalah Palembang dengan tari Tanggai dan Lampung dengan Tari Siger. Biasanya penari akan memberikan sirih kepada ketua rombongan. Seiring berkembangnya zaman, sirih tersebut diganti dengan permen.Sebelum tamu duduk di kursi yang telah disediakan, di beri kalungan bunga atau selendang terlebih dahulu, disaat yang sama penari tersebut menarikan tarian penyambutan. Setelah hampir sampai di tempat duduk yang telah disediakan, salah satu penari akan memberikan sirih atau permen dari kotak sirih kepada ketua rombongan.
Hal yang sebaliknya justru terjadi di wilayah di tempat saya tinggal, masih seputaran kota budaya. Selama beberapa kali melihat kunjungan para pejabat baik dalam maupun luar negeri, justru penyambutannya dengan drumband, dan suguhan tariannya adalah tari kreasi baru.
Semoga ini bisa menjadi catatan kita, bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi untuk menunjukkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Dan pembenahan itu bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti melestarikan tarian tradisional, termasuk tarian penyambutan. Kapan lagi tarian tradisional bisa dipertontonkan tanpa harus melalui even-even besar seperti “Pagelaran Budaya”. Salut buat wilayah-wilayah yang senantiasa menggunakan tarian penyambutan ketika ada tamu datang:)

Des 28, 2010 @ 02:27:37
ya betul, sungguh asyik jika ada tamu datang ke Jogja tercinta disambut dengan tari penyambutan [terasa lebih nJogjani begitu...]