Kartini : Gak Ingin Pake RA (Raden Ajeng)

 

Di pola kehidupan zaman kerajaan-kerajaan di Indonesia, masyarakat Indonesia mengenal sistem kasta, yang mempengaruhi penyematan gelar pada nama yang disandang oleh seseorang. Hal ini dipengaruhi oleh ajaran Hindu yang sudah ada sejak masa lampau di Indonesia. Jika pada paham agama Hindu, kita mengenal kasta Brahmana sampai Sudra/Paria, dalam sistem ketatanegaraan kerajaan, terutama kerajaan Jawa,  kita mengenal tingkatan kasta dengan gelar Raden Ayu, Raden Mas, Gusti Tumenggung, Raden Ajeng, dsb. 

Sedangkan pada zaman modern seperti sekarang ini, tingkatan kasta berubah dari hal-hal yang bersifat genetis menjadi hal-hal yang bersifat materialisme. Biasanya, selain ditinjau dari harta, pada masyarakat urban menjadikan tingkat pendidikan sebagai sistem kasta pada masa kini. Orang begitu bangga menyematkan gelar S1, S2, dan S3 yang di milikinya.

Ketika penyematan gelar tersebut diikuti dengan kapasitas dan kualitas pemikirannya, tentu akan berguna bagi kemajuan bangsa ini. Tetapi sekarang kita lihat bahwa di beberapa tempat marak berdiri lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang “menjual” gelar akademik dengan beberapa lembar rupiah.

Bertepatan dengan semangat “Kartini”, maka alangkah baiknya kita melihat sisi lain sosok seorang Kartini. Selain dianggap sebagai “pejuang emansipasi”, ternyata Kartini yang ketuirunan ningrat dan bergelar Raden Ajeng tersebut tidak mau dipanggil dengan gelar kebangsawanannya tersebut.  

Bagaimana dengan “kebanyakan orang sekarang?” Banyak sekali orang berlomba-lomba mencari gelar akademik, tanpa disertai dengan konten di balik gelar tersebut. Saya teringat  dengan “teman” seperjuangan ketika menunggu dosen untuk konsultasi. Bedanya, saya konsultasi skripsi sedang ibu tersebut konsultasi tesisnya. Beliau warga asli Sorong  Papua  yang mendapat tugas belajar dari Pemda Sorong di Magister Administrasi Publik UGM. Ibu tersebut mulai membekali dirinya dengan pendidikan dari D3 kemudian S1 dan berlanjut ke S2.  Ibu tersebut heran dengan anak-anak muda zaman sekarang. Banyak diantara mereka bangga menyematkan gelar akademik di belakang nama yang tercantum pada “Kartu Undangan Pernikahan”, padahal ketika ditanya kerja dimana mas/mbak? Punya usaha apa mas/mbak? Jawabnya adalah “Pengangguran bu/pak!!!!!”.  Dan apa yang terjadi pada si Ibu lulusan MAP tersebut ketika beliau menikah(Saat menikah sudah bergelar A.Md)???  Gelar tersebut tidak pernah dicantumkannya dalam Undangan Pernikahan.

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.