Siapa yang cerdas???

Lihat gambar ukuran penuhSering kali kita mendengar bahwa si fulan sangat pintar. Ketika kita tanyakan apa ukuran kepintarannya, orang-orang akan menjawab bahwa si Fulan dari kelas satu SD sampai lulus SMA selalu juara satu paralel. Tetapi, sudah benarkah pandangan tersebut???

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan berbeda. Ada yang pandai di bidang matematika, fisika, bahasa,dll. Ada juga yang lebih mampu dalam berteori, namun juga ada yang lebih mampu dalam praktek.  Selama ini, ukuran penilaian kejuaraan kelas lebih banyak mengacu pada nilai rapor, yang merupakan kumpulan dari nilai semua mata pelajaran dan sebagian besar mata pelajaran tersebut lebih bersifat teoritis. Akibatnya, anak yang kurang pandai berteori akan mendapat rangking lebih rendah dan merasa tersisihkan.

Untuk mengurangi rasa kerendahdirian anak dengan rangking rendah, para pendidik hendaknya memberi penjelasan tentang kepandaian agar peserta didik termotivasi untuk mengembangkan kecerdasan dasar masing-masing. Caranya, yaitu dengan memahami berbagai macam kecerdasan yang dimiliki oleh setiap manusia.

Ada tujuh macam kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu :

  1. Kecerdasan Linguistik, yaitu kemampuan berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang komplek.
  2. Kecerdasan Logika-Matematika, yaitu kemampuan dalam menghitung, mengukur, mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi matematis.
  3. Kecerdasan Spasial, yaitu dapat melukiskan kembali, merubah/memodifikasi bayangan, menghasilkan/menguraikan grafik.
  4. Kecerdasan Kinestetik Tubuh, yaitu dapat menggerakkan objek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus.
  5. Kecerdasan Musik, yaitu sensitif  terhadap pola titi nada, melodi, dan ritme.
  6. Kecerdasan Interpersonal, yaitu mampu memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif.
  7. Kecerdasan Intrapersonal, yaitu mampu membuat persepsi yang akurat tentang diri-sendiri.

Jadi, siapa yang cerdas?? Yang jelas adalah bukan anak dengan nilai rapor tertinggi, tetapi anak yang tahu potensinya serta berusaha keras untuk mengembangkan potensinya tersebut.

4 Komentar (+add yours?)

  1. anaKe Mendiknas
    Apr 12, 2009 @ 05:28:37

    kwe jo ngurushi program bapakqu to mbak, arep tak omongke po pye..??omahmu neng yogya ta, kowe ngerti ra omahe Pak bambang Sudibyo kuwi neng yogya,kwe arap di undang karo ajudan bapakqu po piye?saiki kwe nyambut gawe nang ndi je..?wes dadi PNS rung, iso meneng ra? nek meneng ngko tak kandani karo bapakqu biar kwe di angkat dadi PNS. ben uripmu mulyo.ngono ae yo

    Balas

  2. zaxaszix
    Apr 12, 2009 @ 16:12:52

    webnya jelek mbak heheheheh!!! ojo nesu???

    Balas

  3. sugiarno
    Apr 13, 2009 @ 07:16:23

    Makanya, perlu ada perubahan standarisasi kelulusan siswa. Terlebih masih ada kecerdasan spiritual, kecerdasan kreativitas, dan mungkin masih ada yang lain lagi. Salam.

    Balas

  4. kadeweka
    Apr 18, 2009 @ 08:35:57

    Yoo…Ben, Tho!!!!….He..he…he… Daripada blog-mu..membuat puzzziiing orang cz pake gempa bumi segala………….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.