Tarian Penyambutan

Era globalisasi telah menimbulkan beberapa permasalahan berkaitan dengan mulai lunturnya rasa kebanggaan terhadap adat dan budaya daerah. Misalnya saja, banyak pemuda yang lebih menyukai tarian modern seperti balet dan tari kejang, drumband  dalam penyambutan tamu, serta makanan ala barat seperti blackpepper dan shirloin stick.

Tetapi ada beberapa cara yang dilakukan oleh beberapa Pemerintah Daerah untuk mempertahankan adat tradisi di wilayahnya. Yang menarik bagi saya adalah adanya tarian penyambutan.

Tarian ini berfungsi untuk menyambut para tamu, baik pejabat pemerintah setempat bahkan tamu dari manca negara.   Beberapa daerah yang menggunakan tarian penyambutan tersebut adalah Palembang dengan tari Tanggai dan Lampung dengan Tari Siger. Biasanya penari akan memberikan sirih kepada ketua rombongan. Seiring berkembangnya zaman, sirih tersebut diganti dengan permen.Sebelum tamu duduk di kursi yang telah disediakan, di beri kalungan bunga atau selendang terlebih dahulu, disaat yang sama penari tersebut menarikan tarian penyambutan. Setelah hampir sampai di tempat duduk yang telah disediakan, salah satu penari akan memberikan sirih atau permen dari kotak sirih kepada ketua rombongan.

Hal yang sebaliknya justru terjadi di wilayah di tempat saya tinggal, masih seputaran kota budaya. Selama beberapa kali melihat kunjungan para pejabat baik dalam maupun luar negeri, justru penyambutannya dengan drumband, dan suguhan tariannya adalah tari kreasi baru.

Semoga ini bisa menjadi catatan kita, bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi untuk menunjukkan identitas kita sebagai bangsa Indonesia. Dan pembenahan itu bisa dimulai dari hal-hal kecil seperti melestarikan tarian tradisional, termasuk  tarian penyambutan. Kapan lagi tarian tradisional bisa dipertontonkan tanpa harus melalui even-even besar seperti “Pagelaran Budaya”. Salut buat wilayah-wilayah yang senantiasa menggunakan tarian penyambutan ketika ada tamu datang:)

Aku dan Wajah Kematian

Berkali aku tegaskan,

Aku bukan orang suci,

Meskipun aku pecinta kesucian,

Aku bukan malaikat,

Meski aku pecinta malaikat,

Aku bukanlah orang bersih,

Meski aku pecinta kebersihan,

Tapi jelaga-jelaga hitam pembungkus tubuhku,

Membuatku ngeri tiada tara,

Kala malam gulita itu,

Wajah kematianku menghampiri,

Dengan pandangan penuh kedukaan….

(deburan ombak laut selatan, penghujung 27)

Kembali Mencinta-Mu

Ada yang bilang aku orang beriman,

Bulshit!! Aku bukan orang yang beriman,

Ada yang bilang aku orang bertaqwa,

Bulshit!! Aku bukan orang yang bertaqwa,

Ada yang bilang aku orang alim,

Bulshit!! Aku bukan orang alim,

Ada yang bilang aku orang suci,

Bulshit!! Aku bukan orang suci,

Ada yang bilang aku orang bersih,

Bulshit!! Aku bukan orang bersih,

Aku cuma kepolosan,

Aku cuma  layang-layang yang tertatih menggapai langit,

Aku cuma gumpalan darah yang sering terpecah saat menghamba-Mu

Tuhan,

Bantu gumpalan darah yang terbungkus kemunafikan ini,

Untuk kembali mencinta-Mu,

Aku ingin mencinta-Mu

Aku Ingin mencinta-Mu,

Sungguh dalam balutan jelaga dosa,

Kubersujud untuk kembali mencinta-Mu

(deburan ombak laut selatan, penghujung 27)

Pelangi

Pelangi,

Ingin aku menggapaimu

Tapi apa dayaku

Ku loncat,

aku jatuh dan sakit,

Semakin ku meloncat,

tulangku remuk dan jiwaku patah

Dan ku coba meloncat setinggi aku bisa

Akhirnya aku sekarat

Sekarat demi merengkuh warna pelangi..

(deburan ombak laut selatan, penghujung 27)

Penghujung 27

Penghujung 27,

Menjadi satu dalam kepolosan

Menerjang borgol yang menyiksa

Demi sebuah aliran surgawi

Meski tak sempat kaki

Melangkah ke muaranya

Penghujung 27,

Menjadi satu dalam kepolosan

Berselimut cibiran alam

Mencidip keindahan

Dalam balutan dingin kaki Merapi

Penghujung 27,

Tuhan..

Ijinkan aku kembali pada-Mu!!!

(deburan ombak laut selatan, penghujung 27)

Kartini : Gak Ingin Pake RA (Raden Ajeng)

 

Di pola kehidupan zaman kerajaan-kerajaan di Indonesia, masyarakat Indonesia mengenal sistem kasta, yang mempengaruhi penyematan gelar pada nama yang disandang oleh seseorang. Hal ini dipengaruhi oleh ajaran Hindu yang sudah ada sejak masa lampau di Indonesia. Jika pada paham agama Hindu, kita mengenal kasta Brahmana sampai Sudra/Paria, dalam sistem ketatanegaraan kerajaan, terutama kerajaan Jawa,  kita mengenal tingkatan kasta dengan gelar Raden Ayu, Raden Mas, Gusti Tumenggung, Raden Ajeng, dsb. 

Sedangkan pada zaman modern seperti sekarang ini, tingkatan kasta berubah dari hal-hal yang bersifat genetis menjadi hal-hal yang bersifat materialisme. Biasanya, selain ditinjau dari harta, pada masyarakat urban menjadikan tingkat pendidikan sebagai sistem kasta pada masa kini. Orang begitu bangga menyematkan gelar S1, S2, dan S3 yang di milikinya.

Ketika penyematan gelar tersebut diikuti dengan kapasitas dan kualitas pemikirannya, tentu akan berguna bagi kemajuan bangsa ini. Tetapi sekarang kita lihat bahwa di beberapa tempat marak berdiri lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang “menjual” gelar akademik dengan beberapa lembar rupiah.

Bertepatan dengan semangat “Kartini”, maka alangkah baiknya kita melihat sisi lain sosok seorang Kartini. Selain dianggap sebagai “pejuang emansipasi”, ternyata Kartini yang ketuirunan ningrat dan bergelar Raden Ajeng tersebut tidak mau dipanggil dengan gelar kebangsawanannya tersebut.  

Bagaimana dengan “kebanyakan orang sekarang?” Banyak sekali orang berlomba-lomba mencari gelar akademik, tanpa disertai dengan konten di balik gelar tersebut. Saya teringat  dengan “teman” seperjuangan ketika menunggu dosen untuk konsultasi. Bedanya, saya konsultasi skripsi sedang ibu tersebut konsultasi tesisnya. Beliau warga asli Sorong  Papua  yang mendapat tugas belajar dari Pemda Sorong di Magister Administrasi Publik UGM. Ibu tersebut mulai membekali dirinya dengan pendidikan dari D3 kemudian S1 dan berlanjut ke S2.  Ibu tersebut heran dengan anak-anak muda zaman sekarang. Banyak diantara mereka bangga menyematkan gelar akademik di belakang nama yang tercantum pada “Kartu Undangan Pernikahan”, padahal ketika ditanya kerja dimana mas/mbak? Punya usaha apa mas/mbak? Jawabnya adalah “Pengangguran bu/pak!!!!!”.  Dan apa yang terjadi pada si Ibu lulusan MAP tersebut ketika beliau menikah(Saat menikah sudah bergelar A.Md)???  Gelar tersebut tidak pernah dicantumkannya dalam Undangan Pernikahan.

 

Bukan Sekedar Seremonial

Setiap tanggal 21 April, para perempuan Indonesia selalu bersemangat untuk memperingati hari kelahiran Kartini. Mulai dari institusi pendidikan sampai  ke pelosok pedesaan mengadakan berbagai kegiatan untuk memeriahkan hari Kartini tersebut. Sebagian besar kegiatan yang selama ini nampak adalah “Lomba Kebaya”.  Kaum perempuan, baik tua ataupun muda berlenggak-lenggok penuh gaya di atas panggung. Yang mendapat piala atau penghargaan adalah mereka yang paling anggun membawakan kain kebaya di atas panggung.

Saya menjadi teringat, ketika beberapa tahun lalu, ibu Suzzana Eddy Yusuf (yang pada saat itu suaminya menjabat sebagai Bupati Ogan Komering Ulu), justru memberikan penghargaan kepada seorang ibu yang bekerja sebagai cleaning service di sebuah Rumah Sakit di daerah tersebut. Beliau benar-benar seorang ibu yang berjiwa Kartini karena mempunyai semangat berjuang yang tinggi sehingga keempat anaknya sukses menjadi sarjana dan mendapat pekerjaan/penghidupan yang layak. Meskipun suami si ibu tersebut berprofesi sebagai tukang becak, tetapi semangat mereka untuk menyekolahkan anaknya hingga Perguruan Tinggi tak pernah padam. Dan, setelah keempat anaknya sukses menjadi “orang”, si ibu tetap tidak mau menggantungkan hidupnya pada anak-anaknya. Si Ibu memilih untuk mandiri, dengan tetap bekerja sebagai cleaning service.

Dari paparan tersebut dapat kita ambil contoh tentang kegiatan atau acara yang sebenarnya cocok diterapkan pada hari Kartini, bukan sekedar seremonial belaka tanpa tahu esensi dari peringatan hari Kartini. Kegiatan tersebut lebih bersifat mendidik karena penghargaan jatuh kepada orang-orang yang memang berhak untuk menerimanya, yakni orang-orang yang mempunyai semangat juang tinggi untuk mempertahankan dan meninggikan derajatnya sebagai kaum perempuan. Sudah selayaknya, kaum perempuan Indonesia untuk bangkit melawan ketidakberdayaan hidup.

 

Siapa yang cerdas???

Lihat gambar ukuran penuhSering kali kita mendengar bahwa si fulan sangat pintar. Ketika kita tanyakan apa ukuran kepintarannya, orang-orang akan menjawab bahwa si Fulan dari kelas satu SD sampai lulus SMA selalu juara satu paralel. Tetapi, sudah benarkah pandangan tersebut???

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan berbeda. Ada yang pandai di bidang matematika, fisika, bahasa,dll. Ada juga yang lebih mampu dalam berteori, namun juga ada yang lebih mampu dalam praktek.  Selama ini, ukuran penilaian kejuaraan kelas lebih banyak mengacu pada nilai rapor, yang merupakan kumpulan dari nilai semua mata pelajaran dan sebagian besar mata pelajaran tersebut lebih bersifat teoritis. Akibatnya, anak yang kurang pandai berteori akan mendapat rangking lebih rendah dan merasa tersisihkan.

Untuk mengurangi rasa kerendahdirian anak dengan rangking rendah, para pendidik hendaknya memberi penjelasan tentang kepandaian agar peserta didik termotivasi untuk mengembangkan kecerdasan dasar masing-masing. Caranya, yaitu dengan memahami berbagai macam kecerdasan yang dimiliki oleh setiap manusia.

Ada tujuh macam kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu :

  1. Kecerdasan Linguistik, yaitu kemampuan berpikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dan menghargai makna yang komplek.
  2. Kecerdasan Logika-Matematika, yaitu kemampuan dalam menghitung, mengukur, mempertimbangkan proposisi dan hipotesis, serta menyelesaikan operasi matematis.
  3. Kecerdasan Spasial, yaitu dapat melukiskan kembali, merubah/memodifikasi bayangan, menghasilkan/menguraikan grafik.
  4. Kecerdasan Kinestetik Tubuh, yaitu dapat menggerakkan objek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus.
  5. Kecerdasan Musik, yaitu sensitif  terhadap pola titi nada, melodi, dan ritme.
  6. Kecerdasan Interpersonal, yaitu mampu memahami dan berinteraksi dengan orang lain secara efektif.
  7. Kecerdasan Intrapersonal, yaitu mampu membuat persepsi yang akurat tentang diri-sendiri.

Jadi, siapa yang cerdas?? Yang jelas adalah bukan anak dengan nilai rapor tertinggi, tetapi anak yang tahu potensinya serta berusaha keras untuk mengembangkan potensinya tersebut.

Totto Chan : Inspirator Dunia Pendidikan

Sebelum “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata hadir mengguncang dunia pendidikan negeri ini, kita sempat digemparkan oleh hadirnya novel “Totto-Chan : Gadis Cilik di Bawah Jendela” karya penulis Jepang, Tetsuko Kuroyanagi, yang merupakan kisah nyata masa kecil sang Penulis.

Dalam novel tersebut diceritakan ada seorang gadis cilik bernama Totto-Chan yang super aktif. Tetapi kesuperaktifan Totto-Chan tersebut tidak didukung oleh sistem pendidikan formal yang saat itu berlangsung di Jepang. Kelas di setting agar siswa tenang, teratur, dan dalam suasana formal. Segala hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran dilaksanakan secara teratur. Para pengajar pun mengikuti aturan secara “saklek”. Akibatnya, karena tidak tahan pada ulah Totto-Chan, guru di sekolah tersebut mengeluarkan Totto-Chan yang saat itu masih kelas satu SD. Al-Kisah, setelah mendaftar ke beberapa Sekolah Dasar, akhirnya ada salah satu sekolah yang mau menerima Totto-Chan sebagai muridnya, yaitu sekolah Tomoe, dengan Kepala Sekolah bernama Mr. Kobayashi. Selain para guru yang mau menerima “curhatan” dari para siswa, kelas juga di setting semacam sekolah berdasarkan minat dan bakat. Siswa bebas memilih pelajaran yang akan diikutinya pada jam-jam awal sekolah. Selain itu, kelas juga terdiri dari beragam siswa, baik yang cacat maupun berfisik normal, dengan jumlah sekitar 10 orang. More

Kau Lebih dari Seorang Kartini

Di pekat malam nan syahdu,

Kala mata terjerembab dalam asa masa depan,

Kau peluk tangis kecilku dalam kantukmu, More

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.